Secarik Kertas Yang Mengubah Hidupku

images (1)

Oleh : Virgian.

Namaku Wawan, aku sejak kecil sudah tidak mengenal lagi arti kasih sayang orang tua, aku hidup sebatang kara, tidak mempunyai rumah, dan hanya memakai baju dan celana yang sangat tak layak. Kondisiini, terpaksa membuatku harus bekerja keras untuk mencari uang sekedar untuk mengisi perutku walau sehari sekali. Aku Mengamen di sekitar jalanan ibukota, menunggu di persimpangan lampu merah, dan kemudian masuk ke bus-bus yang berhenti di tempat itu. Terkadang, aku sering mendapatkan hal yang tidak terpuji oleh para kenek yang tidak suka denganku, dipukul bahkan dilempar keluar saat bus jalan pun aku pernah mengalaminya, namun aku tidak pernah merasa takut untuk mencoba mengamen di bus lainnya.

Hingga pada suatu hari, “Sial, apa salahku wahai Allah? Uang ini tidak cukup untuk mengisi perutku yang lapar.” Ujarku sedih. Memang, uang yang kuhasilkan seharian mengamen di jalan hanya 2 ribu rupiah, untuk makan nasi sepiring saja tidak cukup, apalagi minum. Dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah melaju dari arah selatan menuju kerumahku, aku segera berinisiatif untuk menaiki nya sekalian mengamen. Namun, penumpang yang ada disini hanya 5 orang saja, namun aku merasa bahwa mereka adalah yang dompetnya tebal. “Selamat malam, wahai para pendengar sekalian, saya disini hanya menghibur para anda sekalian, sekaligus mencari recehan untuk makan, maka dari itu, nikmatilah lantunan lagu berikut ini”. Gitar pun kubunyikan, aku menyanyikan sebuah lagu yang begitu marak, lagu itu adalah lagu Tegar, lagu ini menceritakan tentang pengalaman hidupnya menjadi seorang pengamen yang kemudian berubah menjadi seorang yang berkecukupan.

Namun, belumlah habis lagu dinyanyikan, dalam keadaan mabuk, si kenek itu pun mencekikku,lalu memukulku sambil berkata, “Lancang sekali kau naik ke bus ini tanpa izin, pergi kau, gembel tak berguna” Sergahnya. Aku pun mendapatkan luka goresan yang panjang di lenganku setelah dilempar dari bus itu. Dan tidak lama, kemudian, bus itu berhenti. Melihat hal itu, aku langsung lari terpincang-pincang. “Tunggu wahai pemuda” Teriak salah seorang penumpang yang kemudian menghampiriku. “Kau tidak apa-apa nak? Ini ambillah, untukmu sebagai imbalan karena telah menyanyikan lagu yang sangat menyentuh bagiku”. Katanya tersenyum. “Apa ini pak? Ini bukan uang, yang kubutuhkan hanyalah uang, bukan kertas yang hanya menyulitkan ku saja bapak”. Ujarku kebingungan. “Nanti kau juga tahu, maaf aku harus pergi..” Sahutnya. Dia pun berlari menuju bis itu, “Tunggu siapa nama bapak?” Tanyaku sembari mengejar bis itu, “Ini ambillah” Teriaknya lalu bus itu pun pergi. Ia melemparkan sesuatu di jalan, aku mengambilnya, “Kartu Tanda Penduduk, Heri Suprayitno” Aku menggaruk-garuk kepala kebingungan.

Selepas kejadian itu, aku pun langsung kembali ke tempat singgah sementaraku di kolong jembatan bersama teman-teman senasib sepertiku. Aku pun menanyakan mereka tentang secarik kertas yang kudapat tadi, “Apa? Dimana kau menemukannya?” Tanya firman terbelalak. “Ada seorang yang memberiku kertas ini, tapi aku tidak tahu apa kegunaannya ini.” Kataku menggeleng-geleng. ”Kau Tidak Tahu ini apa? Ini adalah Cek, yang bisa ditukar dengan uang sesuai nominal yang ada di kertas itu.”Ujarnya panjang lebar. Lalu, aku melihat nilai uang yang ada di kertas itu, “Masya Allah, 10 juta rupiah? Mau kita apakan uang sebanyak ini? Alhamdulillah tuhan..” Aku bersujud syukur akan hal itu. “Entahlah, mungkin kita akan gunakan untuk buat usaha kecil-kecilan” Kata si Joko melanjutkan perkataanku. “Ide bagus, mari kita pakai saja uang ini untuk berusaha, siapa tau aja, Allah berpihak dengan kita..” Kataku. “SETUJU!!” kedua temanku berteriak bahagia. Aku pun langsung menukarkan kertas itu di Bank dan mendapatkan 100 lembar uang 100-ribuan. Berbekal ilmu wirausaha yang pernah aku enyam selama Bersekolah di SMP ku 2 tahun lalu, aku pun memulai bisnisku menjadi seorang Florist di took yang sederhana. Modal yang cukup membuatku banyak membeli bibit tanaman yang bagus sehingga tanaman dari biji itu, dapat dijual dengan harga yang tinggi.

3 Tahun telah berlalu, kini aku telah menjadi seorang pengusaha Florist yang sukses. Bersama dengan kedua temanku yang lain, yaitu Firman dan Joko. Kini aku telah membuka berbagai cabang toko Bunga di berbagai Daerah, dan Beromzet sekitar ratusan juta rupiah per bulannya. Ini semua berkat Secarik kertas yang didapat dari seorang lelaki yang baik hati itu. Hingga pada suatu malam, aku teringat akan bapak itu, “Ehh firman, aku ingin mencari lelaki yang memberiku Cek itu, mungkin saja kita bisa bersilaturahmi dengannya sekalian mengucapkan terima kasih.” Ungkapku. “Boleh saja, ok besok kita mencarinya” Senyum firman melebar.

Berbekalkan KTP yang kudapat dari bapak itu, aku pun menuju ke rumahnya sesuai dengan alamat rumahnya di KTP itu, dan aku menemukan sebuah rumah megah di antara rumah lain. “Blok 73, mungkin ini rumahnya” Kataku. Kuketuk pintunya, dan tibalah seorang perempuan yang tidak lain adalah istrinya. “Mau cari siapa nak?” tanyanya lemah lembut padaku. “Saya mau mencari bapak Heri Suprayitno, ada tidak?” Tanya ku. “Ohh, tunggu sebentar ya nak.” Dan tibalah, seorang lelaki yang kukenal itu, ia kebingungan lau bertanya, “Siapa kau? Aku tidak mengenalmu sebelumnya..” Dia mulai bingung. “Maaf kedatangan ku mengganggu bapak, tapi aku adalah pemuda yang menerima cek dari bapak 3 tahun lalu, kini aku telah sukses menjadi pengusaha bunga besar-besaran karena kebaikan bapak” Jelasku tersenyum. “Maaf, cek yang mana ya? Setahu saya, saya tidak pernah member cek kepada siapapun..” Katanya. Aku pun menunjukkan Cek itu, karena sudah kufotokopi waktu ku tukar dengan uang waktu itu, dan juga aku menunjukkan KTP pemberiannya sewaktu ia tak sempat mengenalkan diri. Ia Tersenyum. Dengan bangga, ia berkata, “Berkat kerja keras yang kau lakukan selama ini, pemberian yang bapak kasih kepadamu menjadi lebih berharga, nak”. Ia pun menepuk pundakku. “Terima kasih banyak pak, berkatmu juga aku bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik” Jawabku dengan penuh semangat…
Tamat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s